Total Tayangan Halaman

Rabu, 30 Desember 2009

kehilangan fatamorgana

Dalam keterbukaan alam membuat pelita teratur memijarkan cahaya,senja selalu menyanyi menyambut kehilangan fatamorgana..kehilangan baginya bukan suatu kenyataan yang untuk disesali melainkan kenyataan penundaan yang hanya sekedar menunggu waktu.langkah kaki gontai menuju suara angin untuk melihat aroma mimpi,kurang lebih harapan akan mimpi menjelaskan makna suka atau tidaknya bermimpi dan suka atau tidaknya berharap,jeritan pagi membangunkan mentari dari lamunannya menunggu gerimis,ia berlari ke ufuk timur tanpa ingin meneruskan penungguannya.berharap hidup atas kronologis dari sebuah harapan apalagi hidup untuk orang-orang yang mengapresiasikan kehidupan dalam wujud yang konkret.

Tak Ada GElap,melainkan kekurangan CAhaya

Tak mampu memaknai kebenderangan bukanlah suatu kegelapan,melainkan suatu rasa dari kekurangan cahaya disaat matahari pagi bersinar dan bintang malam berkelip.realita itu aku hadapi dengan suatu alasan yang begitu besar,sebesar galaksi yang menghiasi jagad raya.selangkah demi selangkah namun terus melangkah aku semakin merasakan kekurangan cahaya yang semakin bertambah hingga sama dengan gelap.walaupun kehidupan menawarkan banyak pilihan namun hidup ku tak mempunyai hak mutlak untuk memilih bahkan lebih dari sekedar menyadari akan keberadaan pilihan,dan itu sudah cukup membuktikan betapa kuatnya kelemahanku atas kuasa diriku sendiri.aku tak bisa memilih saat disuguhkan banyak pilihan,aku tak bisa mencari ditengah keterbukaan.sehingga yang ku alami berputar-putar nanar antara marah dan kecewa.aku marah kepada diriku sendiri,kenapa diri ini hanya bisa merasakan jika hanya untuk membiaskan kekecewaan.aku kecewa,kenapa aku selalu mengalami kehilangan ditengah ramainya kepemilikan,aku selalu merasakan ketiadaan ditengah padatnya keberadaan.semua itu aku sadari dengan sesadar-sadarnya jiwa,tapi betapa bodohnya aku dalam menghadapinya aku selalu berusaha menjadi apa yang ku hadapkan bukan apa yang ku rasakan,aku berusaha pengertian kepada kehidupan tanpa pengertian atas hidup diriku sendiri.sungguh hal yang begitu munafik adanya dan itu membuat aku menjalaninya dengan jiwa yang begitu remuk,remuk menyadari akan kebodohan dan kekurangan cahaya itu.memang riskan bagi seorang aku menuntut pengertian dan dimengerti dari kehidupan karena realitanya tak ada seorangpun yang hanya sekedar mengerti apalagi berusaha pengertian terhadap aku kecuali dalam mimpi dan kebohongan aku merasakan itu.walau demikian aku selalu bertindak untuk pengertian terhadap hidup dan lingkunganku dengan harapan feedback atas tindakanku,karena dalam hidup berlaku karma,aku ingin merasakan karma itu.tapi aku telah lelah menunggunya.entah sampai kapan aku bertahan atas semua kenyataan ini? kenyataan yang ada dalam 2 sisi berlawanan.sisi dimana kenyataan menjalani kehidupan dengan diri yang begitu tegar dengan harapan adanya hikmah.dan disisi lain kenyataan merasakan hidup dengan jiwa yang begitu hancur dicincang oleh ketegaran itu sendiri yang tak kan pernah membawa hikmah,aku menyadari semua itu tapi aku tak cukup sadar untuk menyadari satu hal yaitu egois.ntah aku terlalu egois mamaksa diri untuk menjalani semua ini? atau terlalu egois memerima hati menanggung semua perasaan ini sendiri.perasaan yang membuat kehidupan ku mati sebelum hidup ku benar-benar mati.

DEAR GOD

SOME SEARCH,NEVER FINDING A WAY

Asaku telah pergi tinggalkan ku dalam perih,sakit yang ku alami seakan merobek hati.hatiku telah layu tak kau sirami jiwa ku.peluhku peluh luka tak kau lihat di hidupku.mengapa terus kau sakiti aku yang sudah letih? Dalam kesendirian,aku masih disini berharap untuk kau sekedar sadar akan menganggap ku ada. Ya.. hanya untuk menganggap ku ada,tidak lebih memang takkan bisa lebih.untuk itu segala upaya telah ku lakukan semampu ku agar kau memahaminya,namun ternyata itu sia-sia dan membiaskan perih yang begitu hebat.akhirnya ku menyadari bahwa kau tak mempunyai hati tuk menyadari itu.sampai hati sampai begini kau tak peduli,dan tak pernah peduli.

Tersadar di dalam sepi ku mengiris mimpi yang tak pernah membayang,malam melangkah dan berlari menuju peraduan,bintang menyembunyikan pijarnya di tengah kebenderangan matahari,menyeluruh angkuh tanpa mengakui cita atas semua harapan,seolah takut untuk diketahui angin,entah akan ditiupkan kemana jika dia mengetahuinya.suara hati menerjemahkan setiap persembunyian yang terpatri dalam tindakan cita,namun suara hati itu bisu,ia tau tapi tak mampu menyuarakannya kepada apapun yang di rabanya,sehingga makin mantaplah cita tertutup bahkan terkubur dalam keterbukaan siang menyambut fatamorgana.kebanyakan dari yang di perlihatkan cita adalah kebeningan yang menghanyutkan semua asa yang ada,terkecuali asa amor yang mengandung imbuhan me- tanpa di-.itu membuat cita kehilangan keseimbangan dalam berdiri apalagi berlari mungkin cinta takkan sanggup.arus kebeningan cukup kuat,tapi mengapa ia tak mampu menyeret habis perasaan yang menyiksa itu?malahan semakin menyiksa dan menyengsara dengan adanya dukungan sepi yang mewakili fatamorgana malam.cita mencoba menganggap fatamorgana itu sebagai rembesan cahaya yang menerangi kesendiriannya,namun percuma,toh kenyataannya malam memang tanpa cahaya,keberadaan fatamorgana hanyalah sebuah fatamorgana,bintangpun bertandang ke luar dari garis equator cita,cita merasakan itu karena hal yang paling potensial dalam diri cita adalah merasakan hal yang berupa fatamorgana,itulah salah satu dari sedikit kelebihan cita namun salah satu dari banyak kekurangan cita..

Cita sadar itu,untuk itu cita selalu belajar untuk memahami cinta.

FGGH

JHGG