Tak mampu memaknai kebenderangan bukanlah suatu kegelapan,melainkan suatu rasa dari kekurangan cahaya disaat matahari pagi bersinar dan bintang malam berkelip.realita itu aku hadapi dengan suatu alasan yang begitu besar,sebesar galaksi yang menghiasi jagad raya.selangkah demi selangkah namun terus melangkah aku semakin merasakan kekurangan cahaya yang semakin bertambah hingga sama dengan gelap.walaupun kehidupan menawarkan banyak pilihan namun hidup ku tak mempunyai hak mutlak untuk memilih bahkan lebih dari sekedar menyadari akan keberadaan pilihan,dan itu sudah cukup membuktikan betapa kuatnya kelemahanku atas kuasa diriku sendiri.aku tak bisa memilih saat disuguhkan banyak pilihan,aku tak bisa mencari ditengah keterbukaan.sehingga yang ku alami berputar-putar nanar antara marah dan kecewa.aku marah kepada diriku sendiri,kenapa diri ini hanya bisa merasakan jika hanya untuk membiaskan kekecewaan.aku kecewa,kenapa aku selalu mengalami kehilangan ditengah ramainya kepemilikan,aku selalu merasakan ketiadaan ditengah padatnya keberadaan.semua itu aku sadari dengan sesadar-sadarnya jiwa,tapi betapa bodohnya aku dalam menghadapinya aku selalu berusaha menjadi apa yang ku hadapkan bukan apa yang ku rasakan,aku berusaha pengertian kepada kehidupan tanpa pengertian atas hidup diriku sendiri.sungguh hal yang begitu munafik adanya dan itu membuat aku menjalaninya dengan jiwa yang begitu remuk,remuk menyadari akan kebodohan dan kekurangan cahaya itu.memang riskan bagi seorang aku menuntut pengertian dan dimengerti dari kehidupan karena realitanya tak ada seorangpun yang hanya sekedar mengerti apalagi berusaha pengertian terhadap aku kecuali dalam mimpi dan kebohongan aku merasakan itu.walau demikian aku selalu bertindak untuk pengertian terhadap hidup dan lingkunganku dengan harapan feedback atas tindakanku,karena dalam hidup berlaku karma,aku ingin merasakan karma itu.tapi aku telah lelah menunggunya.entah sampai kapan aku bertahan atas semua kenyataan ini? kenyataan yang ada dalam 2 sisi berlawanan.sisi dimana kenyataan menjalani kehidupan dengan diri yang begitu tegar dengan harapan adanya hikmah.dan disisi lain kenyataan merasakan hidup dengan jiwa yang begitu hancur dicincang oleh ketegaran itu sendiri yang tak kan pernah membawa hikmah,aku menyadari semua itu tapi aku tak cukup sadar untuk menyadari satu hal yaitu egois.ntah aku terlalu egois mamaksa diri untuk menjalani semua ini? atau terlalu egois memerima hati menanggung semua perasaan ini sendiri.perasaan yang membuat kehidupan ku mati sebelum hidup ku benar-benar mati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar