2.1 Karakteristik Ultisol dan
Permasalahnnya
Ultisol merupakan salah satu jenis tanah yang mempunyai
sebaran terluas di Indonesia yaitu
mencapai 45.794.000 ha atau sekitar 25 %
dari total luas daratan Indonesia. Tanah ini tersebar di
Kalimantan (21.938.000 ha), di Sumatera (9.469.000 ha), Maluku dan Papua
(8.859.000 ha), Sulawesi (4.303.000 ha), Jawa (1.172.000 ha),dan Nusa Tenggara
(53.000 ha). Tanah ini dapat dijumpai pada berbagai relief, mulai dari datar
hingga bergunung ( Subagyo et al, 2004). Menurut Radjagukguk (1983) tanah-tanah bermasalah di
Indonesia antara lain ordo Oxisol, ordo Ultisol, dan Ordo Histosol. Dari 50
juta Ha lahan bermasalah tersebut 38,4 juta ha ditempati oleh Ultisol.
Diantaranya 1,023 juta ha lahan tersebut terdapat di Sumatera Barat, atau
sekitar 6,1 % dari seluruh tanah Ultisol
di Indonesia (LPT, 1979). Ultisol
dicirikan oleh adanya akumulasi liat pada horizon bawah permukaan sehingga
mengurangi daya resap air dan meningkatkan aliran permukaan dan erosi tanah.
Erosi merupakan salah satu kendala fisik pada Ultisol dan sangat merugikan
karena dapat mengurangi kesuburan tanah. Bila lapisan ini tererosi maka tanah menjadi miskin bahan organik dan
hara (Sri Adiningsih dan Mulyadi,1993).
Menurut Hardjowigeno (2003), Ultisol mempunyai sifat kimia yang kurang baik
yang dicirikan oleh kemasaman tanah yang
tinggi dengan pH < 5, kandungan
bahan organik tanah rendah sampai sedang, kandungan hara N, P, K, Ca, Mg dan Mo
rendah. Kapasitas tukar kation (KTK) kecil dari 24 me/100 g. Sebaliknya kelarutan
Al, Mn, dan Fe sering tinggi, sehingga sering meracun bagi tanaman. Hal itu
disebabkan oleh tingkat pelapukan yang sudah lanjut serta curah hujan yang
tinggi, sehingga unsur hara tercuci ke lapisan bawah. Di samping itu juga disebabkan
oleh bahan induk mineral tanah yang miskin mineral primer yang mengandung unsur
hara yang dibutuhkan tanaman. Soepardi (1983) menyatakan bahwa kandungan N Ultisol < 0,2 % P tersedia < 1 ppm, Ca dan Mg < 3 me/ 100g, dan kandungan bahan
organik rendah. Oleh karena itu, untuk mempertahankan bahan organik tanah perlu
dilakukan pengembalian sisa-sisa tanaman.
Hakim (1982) mengemukakan bahwa pupuk hijau merupakan salah satu sumber
bahan organik yang baik untuk penyubur tanah Ultisol. Kemasaman tanah Ultisol selain disebabkan oleh curah hujan yang tinggi
yang mengakibatkan basa-basa mudah tercuci, juga disebabkan oleh hasil
dekomposisi mineral aluminium silikat yang membebaskan ion aluminium (Al+3).
Ion tersebut dapat dijerap kuat oleh koloid tanah dan bila dihidrolisis akan
menyumbangkan ion H+, akibatnya tanah menjadi masam ( Nyakpa, Lubis,
Pulung, Amrah, Munawar, Hong, Hakim, 1988). Proses hidrolisis Al+3 dapat
dilukiskan sebagai berikut :
Perlakuan yang tepat untuk mengurangi kemasaman Ultisol sekaligus
meningkatkan kadar haranya adalah dengan
memberi kapur dan pupuk buatan yang cukup. Hal ini dilakukan untuk memperbaiki
sifat fisika dan kimia tanah. Hal tersebut diharapkan juga dapat meningkatkan
kegiatan jasad renik dalam tanah (Hakim, Nyakpa, Lubis, Nugroho, Saul, Diha,
Hong, Bailey, 1986). Hakim et al (1986) telah menuliskan reaksi kapur dalam menaikkan pH yang
ditandai oleh pembebasan OH adalah sebagai berikut : CaO + H2O → Ca2+
+ 2OH- CaCO3 + H2O
→ Ca2+ + HCO3-
+ OH- Hakim (2006) menegaskan bahwa kapur merupakan pengendali kemasaman tanah
yang paling tepat karena reaksinya sangat cepat dan menunjukkan perubahan
kemasaman tanah yang sangat nyata.
Pemberian kapur setara 1 x Al dd sudah dapat menaikkan pH sehingga 5,3 –
5,4 dan menurunkan kejenuhan Al sampai < 30 %. Pemberian kapur setara 2 x Al dd dapat
menaikkan pH sampai 5,9 – 6,0 dan kejenuhan Al turun hingga 3 – 5 %. Kondisi
tersebut cocok untuk semua jenis tanaman pangan. Berkaitan dengan kemasaman tanah pada Ultisol yang disebabkan oleh
kelarutan Al, kelarutan besi (Fe) dan mangan (Mn) juga cukup tinggi. Keberadaan
kation Al, Fe dan Mn pada tanah masam menyebabkan unsur fosfor (P) kurang tersedia bagi tanaman.
Akibatnya tanaman sering menunjukkan kekurangan unsur P pada tanah tersebut. Di
samping itu, unsur molibdenum (Mo) kelarutannya sangat rendah pada tanah masam.
Unsur ini dibutuhkan tanaman legum dalam pembentukan bintil akar untuk menambat
nitrogen (N). Akibatnya, penambatan N menjadi terhambat pada tanah bereaksi
masam (Nyakpa et al, 1988). Ultisol miskin hara terutama unsur N, P dan K. Oleh karena itu, Ultisol
memerlukan pupuk yang banyak. Dengan pengapuran dan pemupukan yang banyak,
Ultisol dapat lebih produktif. Akan tetapi harga pupuk semakin mahal. Oleh
karena itu pemakaian pupuk harus dihemat tanpa menurunkan produksi (Hakim,
2006). Tanah ultisol pada dasarnya mempunyai struktur yang baik,
tapi tidak optimal dalam kemampuan memegang air, sehingga cepat kehilangan air
sehingga tanah mengalami dehidrasi.
Namun jika tanah ini dikelola dan diperlakukan secara tepat, maka tanah
ini bisa produktif (Soepardi, 1983).
Perlakuan yang bisa kita usahakan terhadap tanah ultisol adalah cara
penetralan kadar asam sekaligus meningkatkan kadar haranya. Salah satu cara untuk meningkatkan kadar hara
tanah ini adalah dengan memberi kapur dan pupuk buatan yang cukup. Kadar asam
ultisol dinetralkan dengan pemberian kapur. Hal ini dilakukan untuk mempengaruhi
sifat fisika dan kimia tanah. Selanjutnya juga diharapkan meningkatkan kegiatan
jasad renik dalam tanah (Hakim et al,1986). Berkaitan dengan kemasaman tanah pada Ultisol yang disebabkan oleh
kelarutan Al, kelarutan besi (Fe) dan mangan (Mn) juga cukup tinggi. Keberadaan
kation Al, Fe dan Mn pada tanah masam menyebabkan unsur fosfor (P) kurang tersedia bagi tanaman.
Akibatnya tanaman sering menunjukkan kekurangan unsur P pada tanah tersebut. Di
samping itu, unsur molibdenum (Mo) kelarutannya sangat rendah pada tanah masam.
Unsur ini dibutuhkan tanaman legum dalam pembentukan bintil akar untuk menambat
nitrogen (N). Akibatnya, penambatan N menjadi terhambat pada tanah bereaksi
masam (Nyakpa et al, 1988). Ultisol miskin hara terutama unsur N, P dan K. Oleh karena itu, Ultisol
memerlukan pupuk yang banyak. Dengan pengapuran dan pemupukan yang banyak,
Ultisol dapat lebih produktif. Akan tetapi harga pupuk semakin mahal. Oleh
karena itu pemakaian pupuk harus dihemat tanpa menurunkan produksi (Hakim,
2006).
terima kasih infonya. tulisannya bagus, alangkah lebih bagus dan berguna lagi klo di tambahin daftar pustakanyang lengkap. :)
BalasHapusOkey sist..terima kasih atas sarannya
BalasHapus